Minggu, 15 November 2009

Agama dan Teror

BAB I
LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Bola dunia mulai tahun 2001, tak lagi berwarna biru. Dongeng anak sudah terkubur. Kisah damai dengan akhir bahagia luluh lantak. Bola dunia menjadi gelap bukan hanya drama penculikan Abu Sayyaf di Filipina yang tak kunjung usai atau pembunuhan di kalangan keluarga kerajaan Nepal, bukan hanya karena perang, banjir di berbagai belahan bola dunia masih juga mendera hidup manusia, serangan terhadap menara kembar WTC (World Trade Center) yang menyebabkan tewas dan hilangnya ribuan korban.
Nampaknya fenomena ini menjadi menarik untuk dicermati. Jangan-jangan analogi semacam ini juga dapat dikenakan pada tindakan yang selama ini kita sebut sebagai terorisme. Jangan-jangan, para teroris pun memiliki tujuan yang mereka anggap mulia bagi peradaban ini di balik aksi teror mereka. Bukankah ini sama halnya dengan pemerintah Amerika yang merencanakan tindakan kekerasan atas nama perdamaian dunia? Lebih jauh lagi, jangan-jangan perdamaian dunia ini ternyata hanyalah sebuah komoditi untuk pemenuhan kepentingan kelompok-kelompok tertentu.
Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik, lebih terbuka, adil dan demokratis.
Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama belakangan ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite dan militer.

BAB II
PEMBAHASAN

A. AGAMA DAN TEROR
Terorisme sejak hancurnya Gedung WTC telah menjadi ulasan utama forum internasional. Mengapa terjadi terorisme? Walaupun hal ini bukan fenomena baru, namun beberapa dekade terakhir cenderung semakin sering meluas dan memakan korban jiwa semakin banyak.
Runtuhnya Gedung WTC, peristiwa peledakan bom di Legian Bali menegaskan fenomena signifikan terorisme di dalam beberapa dekade terakhir yaitu motif keagamaan terbukti mampu menciptakan kehancuran yang maha dahsyat. Motif keagamaan membuat langkah-langkah yang sulit diterima logika umum. Seseorang atau sekelompok orang rela menyerahkan hidupnya untuk aksi bunuh diri dengan keyakinan bahwa perbuatan mereka akan mendapatkan imbalan surgawi dari Tuhan.

1. Eksklusifisme Agama
Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan menyesatkan. Pandangan semacam ini masih sangat kental, bahkan sampai sekarang.
Pandangan eksklusif seperti itu memang bisa dilegitimasikan atau tepatnya dicarikan legitimasinya. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai contoh, dalam tradisi Katolik, sebelum Konsili Vatikan II Gereja dipandang dan dihayati sebagai institusi keselamatan, yaitu lembaga yang perlu didatangi dan dimintai bantuannya kalau seseorang menginginkan serta membutuhkan keselamatan. Di dalam Gereja itulah tersedia keselamatan seutuhnya dan di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus) tetapi sejak Konsili Vatikan II (1965), sudah jelaslah bahwa pandangan menjadi sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan dalam agama-agama non-Kristiani (Hand Out Mata Kuliah Ekklesiologi).

2. Kekerasan Bersimbol Agama
Melacak Kekerasan bersimbol keagamaan, Dian Nafi mengetengahkan 4 sebab kekerasan bersimbol agama, yaitu:
a. Struktur dominan yang kini berkembang dan potensial bagi munculnya bentuk-bentuk perlawanan dengan kekerasan.
b. Dalih yang dipandang logis bagi disertakannya simbol keagamaan dalam kekerasan
c. Ingatan kolektif masyarakat yang merekam sejarah kekerasan dan terpanggil kembali saat situasi memungkinkan pemunculannya kembali ke tataran aksi.
d. Lemahnya sosialisasi norma, pola sikap dan kecakapan untuk membangun kehidupan majemuk tanpa pola kekerasan.
Menurut Karen Amstrong, menempatkan agama sebagai biang kekerasan terlepas dari faktor struktural yang melingkupinya, dengan demikian menimbulkan kekaburan pemahaman bahwa dikalangan para penganut agama terdapat komunitas fundamentalis. Peperangan yang bernuansa agama sebenarnya bukan bermula dari agama itu sendiri, melainkan politisasi agama untuk kepentingan kekuasaan dan sumber-sumber ekonomis.

B. PLURALISME DAN DIALOG ANTAR AGAMA
1. Pluralisme
Menurut Budi Munawar, dewasa ini penerimaan atas pluralisme tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang terpecah-pecah, karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara untuk menghindari kefanatikan.
Padahal kebutuhan sekarang bukan hanya karena fakta sosiologis saja, tapi bisakah paham pluralisme itu dibangun karena begitulah faktanya mengenai Kebenaran Agama, bukan hanya karena fakta sosialnya.

2. Dialog Antar Agama
Sejalan dengan kebutuhan itu, teologi agama-agama bisa menjelaskan alasan teologisnya mengapa suatu agama perlu masuk dalam dialog antar-agama.
Menurut Hendropuspito dialog antar umat beragama adalah suatu temu wicara antara dua atau lebih pemeluk agama yang berbeda, dalam mana diadakan pertukaran nilai dan informasi keagamaan pihak masing-masing untuk mencapai bentuk kerja sama dalam semangat kerukunan. Tujuan dialog ini adalah untuk mencapai saling pengertian dan saling penghargaan yang lebih baik antar penganut agama dan kemudian bersama-sama menjalin hubungan persaudaraan yang jujur untuk melaksanakan rencana keselamatan yang dikehendaki Tuhan yang memanggilnya.

3. Salah Satu Ajaran Iman Kristiani dalam Beretika dalam Menghadapi Masalah Teror Berdalih Agama
Roma 12:17-21 merupakan bagian dari rangkaian nasihat Paulus tentang bagaimana memancarkan kasih sebagai etika, yaitu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, justru sebaliknya melakukan yang baik bagu semua orang dan hidup dalam perdamaian dengan semua orang (bdk. ay. 17-18). Tidak melakukan balas dendam sebab pembalasan adalah hak Allah (bdk. ay. 19). Yang terakhir adalah selalu memperbanyak kebaikan agar kejahatan menjadi malu (bdk. ay. 20-21).




BAB III

A. KESIMPULAN
Dari kajian yang saya paparkan dalam makalah ini saya menyimpulkan bahwa tidak ada satu agama pun di dunia ini yang jahat, tetapi yang jahat adalah manusianya. Satu kata dalam menyimpulkannya yaitu:
"Satu Tuhan, dalam banyak jalan".
Untuk menjelaskan kesimpulan tersebut saya akan menjelaskan dengan analogi sebagai berikut,
"Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah kita tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju kampus IPPAK? Oleh karena itu apabila yang kita pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang kita pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan."
Akhirnya dalam spirit kesatuan inilah, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya.

B. PENUTUP
Memang masalah terorisme menjadi semakin pelik dan ruwet saat ini, namun itu akan bertambah menakutkan apabila kebaikan dalam wujud nilai dan tindakan: persahabatan, persaudaraan, keteladanan, keadilan dan kemanusiaan memudar dan sirna dari kehidupan ini. Semoga saja tidak demikian!





DAFTAR PUSTAKA


Budi Munawar. 2000. Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama. Jakarta: Universitas Paramadina Mulya
Dian Nafi. 2003. Kekerasan Bersimbol Keagamaan Sebagai Beban Sejarah. Malang: SIKI
Hendropuspito. 1984. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Karen Amstrong. 2001. Berperang Demi Tuhan: Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi. Bandung: Serambi Ilmu Semesta.
Kitab Suci Perjanjian Baru. Ende: Percetakan Arnoldus
Putranto. 2008. Hand Out Mata Kuliah Ekklesiologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku adalah aku

Foto saya
bantul, yogyakarta, Indonesia
Seorang manusia biasa yang mencoba bersuara pada dunia tentang Kedamaian.